SIKKA NTT – baisttnews.com Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang berpusat di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu, 15 Agustus 2026 memakan korban jiwa.

Dua warga dikabarkan tewas akibat gempa bumi yang mengguncang NTT. Guncangan gempa membuat warga di sejumlah wilayah Kabupaten Sikka, khususnya yang berada di kawasan pesisir panik dan memih untuk mengungsi sementara ke tempat yang lebih tinggi.

Guncangan gempa turut dirasakan kuat di sejumlah wilayah Flores, seperti Mbay, Borong, Ruteng, Ende, termasuk Maumere dan daerah lainnya di Provinsi NTT.

Kondisi gempa ini mengakibatkan kerusakan pada sejumlah bangunan baik rumah warga maupun fasilitas publik. Fasilifas publik seperti ruang tunggu Pelabuhan L.Say Maumere mengalami kerusakan berat.

Oskar Sawa, salah seorang warga yang berada di Pelabuhan L.Say saat gempa terjadi mengatakan, saat gempa terjadi, dirinya berada di area ruang tunggu Pelabuhan Lorens Say karena ingin mengantar keluarga yang akan berangkat dengan menumpang Kapal KM. Bukit Siguntang ke Kalimantan.

“Pas gempa tadi, saya koordinasi dengan petugas Karantina Kesehatan Pelabuhan Lorens Say dan juga Pelindo untuk masuk ke dalam bawa dengan kursi roda. Karena ada pasien yang tidak bisa jalan sendiri. Jadi pas saya istirahat kurang lebih 1 menit karena melihat kondisi penumpang turun sangat ramai, makanya saya tidak jadi untuk ke dalam karena harus tunggu dulu agar penumpang berkurang, baru bisa masuk. Nah, sekitar 1 menit saya berdiri di samping gedung itu, baru gempa datang, kemudian langsung dengan rubuhnya gedung itu,” kata Oskar Sawa.

Oskar Sawa juga menjelaskan, bahwa pada saat terjadi gempa, ada reruntuhan dari lantai 2 gedung ruang tunggu pelabuhan. Dari plafon bangunan sampai dinding runtuh.

“Awalnya tidak panik karena sudah pernah ikut pelatihan kebencanaan dari Basarnas dan PMI,” jelasnya.

Untuk menghindari sesuatu hal yang berbahaya, Ia berdiri menghindari tempat yang mengakibatkan kecelakaan. Hanya di dalam ruang tunggu, penumpang mulai teriak kepanikan dan berlari menyelamatkan diri.

“Karena teriak histeris, makanya semua lari tidak tahu arah lagi ke mana-mana. Ada yang lari ke laut, ada yang lari ke darat. Ada yang loncat ke dalam air laut,” ujarnya.

Tak hanya itu, karena kepanikan saat turun dari kapal KM Bukit Siguntang, ada penumpang yang terjatuh saat di tangga kapal.

“Ada satu yang jatuh dari kapal. Dari tangga tuh, sementara turun. Karena panik kan, langsung jatuh ke bawah,” terangnya.

Plt. Sekda Sikka, Margareth Movaldes da Maga Bapa, menerangkan, gempa bumi yang terjadi mengakibatkan kerusakan bangunan namun pihaknya masih melakukan identifikasi kerusakan yang terjadi. Sementara untuk korban jiwa tercatat sudah dua orang meninggal dunia.

“Dua korban meninggal dunia terdiri dari satu laki-laki dan satu perempuan. Keduanya saat ini telah dievakuasi ke RSUD Tc.Hillers Maumere,” ujar Movaldes Bapa.

Ia mengatakan, korban meninggal atas nama Bernadus Muda (66 tahun), korban meninggal tertimpa runtuhan bangunan Pelabuhan L.Say Maumere. Korban meninggal kedua yakni Maria Diana Meliana (54 tahun) yang tertimpa reruntuhan beton rumah tinggal di Kelurahan Kota Uneng.

“Korban meninggal dunia di RSUS TC Hillers Maumere,” katanya.

Saat ini tim gabungan yang terdiri dari unsur Basarnas, TNI dan Polri saat ini masih melakukan proses evakuasi di lokasi kejadian.

Saat gempa terjadi, kepanikan juga melanda pasien dan tenaga kesehatan di RSUD Maumere. Ratusan pasien dan warga lari berhamburan menyelamatkan diri ke halaman parkir RSUD.

Saat ini tim dari BPBD Sikka, Dinsos Sikka, Polres dan KODIM Sikka telah membangun tenda darurat untuk pasien dan pelayanan darurat.
BNPB masih melakukan pemutakhiran data terkait dampak gempa bumi di wilayah terdampak. Pendataan meliputi korban jiwa, korban luka-luka, kerusakan bangunan, maupun dampak lainnya. Informasi mengenai perkembangan korban dan kerusakan akan disampaikan berdasarkan hasil verifikasi petugas di lapangan.

BNPB mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir, untuk tetap tenang dan mengikuti arahan resmi dari pemerintah daerah serta informasi peringatan dini dari BMKG. Masyarakat juga diminta menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan atau retak akibat gempa karena berpotensi membahayakan keselamatan.

“Masyarakat diminta tidak mudah percaya maupun menyebarkan informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Informasi resmi mengenai perkembangan gempa dan potensi tsunami dapat dipantau melalui kanal resmi BMKG, BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah, serta TNI-Polri,” pesannya.

(L-Man)