PATI baistnews.com – Perjalanan Intamah dari Rembang menuju Gembong, Kabupaten Pati, pada Selasa, 22 September 2026, berakhir tanpa bertemu orang yang hendak ditemuinya.

Bersama temannya, Bariroh, Intamah datang mencari Aan Pramono. Tiga hari sebelumnya, tepatnya 18 September 2026, Intamah menerima kiriman baglog jamur yang dipesannya.

Masalahnya, pesanan yang dibayar untuk 2.000 baglog itu, menurut pengakuan Intamah, hanya datang sekitar 1.500 baglog.

Masih ada 500 baglog yang belum diterima. Nilai kekurangan tersebut disebut sekitar Rp1,4 juta.

Intamah tidak memilih hanya menunggu. Ia datang langsung ke Gembong untuk mencari penjelasan. Namun, Aan tidak ada di rumah.

Rumah yang didatangi Intamah merupakan rumah keluarga calon pasangan Aan. Dari sinilah pencarian terhadap Aan justru membuka cerita lain.

Dari Rembang ke Gembong, Pulang Tanpa Bertemu Aan

Intamah mengaku mengenal Aan bukan tanpa alasan. Ia mendapatkan rekomendasi dari seorang teman yang sebelumnya pernah memesan baglog kepada Aan dan, menurut Intamah, menerima pesanan sesuai.

Kepercayaan itulah yang kemudian membuat Intamah memesan 2.000 baglog atas nama Kelompok Usaha Bersama (KUB).

Pembayaran disebut telah lunas, Tetapi barang yang datang hanya 1.500 baglog.

Ketika Aan sulit dihubungi, Intamah bersama Bariroh akhirnya menempuh perjalanan ke Gembong.

Harapannya sederhana: bertemu Aan, menanyakan kekurangan barang, dan mendapatkan kepastian kapan 500 baglog sisanya dikirim.

Yang terjadi justru sebaliknya  Aan tidak ditemukan. Intamah kemudian berbicara dengan keluarga calon pasangan Aan. Dari sinilah muncul informasi mengenai kehidupan Aan selama berada di Gembong.

Berawal dari Media Sosial dengan Perempuan di Taiwan

Menurut keterangan keluarga yang disampaikan ketika Intamah datang, Aan sebelumnya mengenal calon pasangannya—dalam berita ini disebut Bunga—melalui media sosial.

Saat hubungan itu mulai dekat, Bunga masih berada di Taiwan.

Meski Bunga belum kembali ke Indonesia, Aan disebut kemudian diizinkan tinggal di rumah keluarga Bunga di Gembong.

Menurut keterangan keluarga, Aan tinggal di rumah tersebut kurang lebih satu tahun. Namun cerita itu disebut tidak berakhir mulus.

Menurut kakak Bunga, Aan disebut tidak hanya mempunyai persoalan yang berkaitan dengan Intamah. Selama tinggal di rumah tersebut, Aan disebut juga membuat sejumlah persoalan lain sehingga keluarga akhirnya meminta yang bersangkutan meninggalkan rumah.

Keterangan tersebut merupakan versi keluarga Bunga dan belum dikonfirmasi langsung kepada Aan.

Setelah meninggalkan rumah, Aan disebut tidak lagi berada di Gembong dan menurut informasi yang diterima Intamah disebut kembali ke wilayah Demak.

Persoalan Baglog Justru Membuka Pertanyaan Baru

Persoalan tidak berhenti pada kekurangan 500 baglog. Intamah mengaku awalnya memahami bahwa barang dikirim Aan melalui sebuah ekspedisi.

Namun, setelah dilakukan penelusuran, menurut informasi yang diterimanya, pihak yang disebut sebagai ekspedisi tersebut ternyata juga berperan sebagai pemasok baglog.

Dengan kata lain, menurut versi Intamah, Aan diduga menerima pesanan dari dirinya kemudian meneruskan pesanan tersebut kepada pihak ketiga yang menyediakan baglog.

Persoalan muncul ketika pihak ketiga tersebut disebut belum menerima pembayaran dari Aan. Pihak ketiga kemudian disebut meminta pembayaran kepada Intamah atas 1.500 baglog yang sudah sampai. Intamah menolak.

“Saya beli dari Aan dan sudah saya bayar lunas. Pesanan saya saja masih kurang 500 baglog. Kalau ada persoalan pembayaran antara Aan dengan pihak pemasok, saya tidak tahu,” ujar Intamah.

Menurut pengakuan Intamah, pihak ketiga tersebut bahkan sempat menyampaikan akan mengambil kembali baglog yang telah diterimanya apabila pembayaran tidak dilakukan.

Intamah tetap bertahan pada posisinya bahwa dirinya telah memenuhi kewajiban pembayaran kepada pihak yang menjadi tempatnya membeli.

Bukan Soal Rp1,4 Juta Semata

Bagi Intamah, persoalan ini bukan semata-mata tentang nominal Rp1,4 juta. Ia mempertanyakan bagaimana pesanan 2.000 baglog yang menurut pengakuannya sudah dibayar lunas hanya sampai 1.500 baglog, sementara dirinya kemudian berhadapan dengan persoalan pembayaran antara Aan dan pihak lain.

Karena itu, ia memilih datang langsung ke Gembong. Tetapi perjalanan itu berakhir zonk. Aan tidak ditemui.

Yang diperoleh justru cerita dari keluarga calon pasangan mengenai keberadaan Aan dan persoalan selama ia tinggal di rumah tersebut.

Kini terdapat sejumlah pertanyaan yang belum terjawab:

Di mana 500 baglog yang belum diterima Intamah? Siapa sebenarnya pemasok 1.500 baglog tersebut? Bagaimana kesepakatan pembayaran antara Aan dan pemasok? Mengapa pembeli yang mengaku telah membayar lunas justru diminta membayar oleh pihak ketiga? Dan apa sebenarnya alasan Aan meninggalkan rumah keluarga calon pasangannya di Gembong?

Semua pertanyaan tersebut masih membutuhkan klarifikasi dari Aan Pramono.

Pihak pemasok juga perlu memberikan penjelasan mengenai status 1.500 baglog yang telah dikirim dan dasar permintaan pembayaran kepada Intamah.

Sementara itu, Intamah mengaku berharap persoalan tersebut tidak berhenti pada dirinya.

“Saya berharap jangan sampai ada korban lain seperti kami.”

Satu pesanan, tiga pihak, dan kini menyisakan banyak pertanyaan.