PATI baistnews.com – Hari ketiga aksi demonstrasi Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di depan Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Pati, Rabu (29/7/2026), berlangsung semakin memanas. Ratusan massa yang memadati lokasi menggelar serangkaian aksi simbolik sebagai bentuk protes terhadap penanganan perkara yang mereka soroti.
Puncak demonstrasi terjadi ketika massa melakukan teatrikal dengan membakar sebuah keranda mayat berisi replika pocong di depan Kantor Kejari Pati. Kobaran api disaksikan para peserta aksi, pengguna jalan, dan warga sekitar yang berhenti menyaksikan jalannya unjuk rasa.
Koordinator aksi, Teguh Istiyanto, menjelaskan bahwa pembakaran keranda tersebut merupakan simbol perlawanan terhadap apa yang mereka sebut sebagai ketidakadilan dan rusaknya penegakan hukum.
“Pembakaran keranda berisi replika pocong ini bukan sekadar aksi teatrikal. Ini adalah simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan bentuk kekecewaan kami terhadap penegakan hukum yang kami nilai belum memberikan rasa keadilan kepada masyarakat,” tegas Teguh.
Tak lama berselang, suasana kembali memanas ketika massa melemparkan telur busuk, bangkai hewan yang telah membusuk, serta berbagai benda berbau menyengat ke halaman Kantor Kejaksaan Negeri Pati. Bau menyengat langsung memenuhi area sekitar kantor kejaksaan dan menarik perhatian masyarakat yang berada di sekitar lokasi.
Menurut massa aksi, pelemparan benda-benda busuk tersebut merupakan simbol kekecewaan terhadap kondisi penegakan hukum yang mereka nilai telah “membusuk”. Aksi itu diiringi yel-yel serta orasi yang menuntut adanya perubahan dalam proses penegakan hukum di Kabupaten Pati.
Dalam orasinya, Teguh kembali mempertanyakan penanganan salah satu perkara dugaan korupsi yang menurutnya telah berjalan berbulan-bulan tanpa dilakukan penahanan terhadap tersangka.
“Kami meminta seluruh proses penegakan hukum dilakukan secara profesional, transparan, dan tanpa tebang pilih. Jika memang ada dugaan pelanggaran, harus ditindak sesuai hukum yang berlaku,” ujarnya di hadapan ratusan peserta aksi.
Selain meminta pertanggungjawaban Kepala Kejaksaan Negeri Pati, massa juga menyampaikan tuntutan agar pejabat pada bidang Pidana Umum, Pidana Khusus, Intelijen, serta seorang jaksa yang disebut dalam orasi turut dimintai pertanggungjawaban. Berbagai dugaan mengenai penyimpangan proses penegakan hukum disampaikan sebagai bagian dari aspirasi demonstrasi.
Aksi kemudian berlanjut dengan penyampaian kesaksian dari sejumlah warga yang mengaku pernah berhadapan dengan proses hukum. Salah satunya seorang perempuan yang memperkenalkan diri sebagai Anik.
Di hadapan ratusan peserta aksi, Anik mengaku suaminya pernah tersangkut perkara perjudian saat pelaksanaan pemilihan kepala desa beberapa tahun lalu. Ia mengklaim pernah dimintai uang hingga Rp100 juta terkait penanganan perkara tersebut.
“Saya datang ke sini untuk menyampaikan apa yang saya alami. Peristiwa ini memang sudah lama terjadi sehingga saya tidak lagi memiliki bukti, tetapi saya berani mempertanggungjawabkan apa yang saya sampaikan,” kata Anik.
Anik mengakui peristiwa itu telah berlangsung cukup lama sehingga dirinya tidak lagi memiliki bukti pendukung. Meski demikian, ia menyatakan siap mempertanggungjawabkan keterangannya.
“Saya bahkan berani bersumpah atas keterangan yang saya berikan di hadapan masyarakat. Harapan saya hanya satu, agar penegakan hukum benar-benar memberikan keadilan bagi rakyat kecil,” ujarnya.
Selain Anik, beberapa peserta aksi lainnya turut menyampaikan pengakuan mengenai dugaan permintaan uang sebesar Rp8 juta maupun Rp30 juta yang menurut mereka berkaitan dengan proses penanganan perkara di Kejaksaan Negeri Pati. Kesaksian-kesaksian tersebut disampaikan secara terbuka di hadapan massa demonstran.
Demonstrasi berlangsung hingga menjelang azan Magrib. Massa bergantian menyampaikan orasi, membentangkan spanduk berisi tuntutan, serta menyerukan agar penegakan hukum dilakukan secara profesional, transparan, dan tanpa diskriminasi.
Aksi hari ketiga dari rangkaian demonstrasi yang direncanakan berlangsung selama lima hari itu juga mendapat dukungan dari sejumlah aktivis dari Surabaya dan Solo. Mereka mengajak masyarakat terus mengawal penegakan hukum dan menyatakan gerakan serupa berpotensi mendapat dukungan dari berbagai daerah apabila tuntutan AMPB tidak memperoleh respons dari pihak berwenang.
Selama aksi berlangsung, aparat kepolisian melakukan pengamanan di sekitar lokasi guna memastikan demonstrasi tetap berjalan aman dan kondusif.
Hingga berita ini diterbitkan, seluruh tuduhan, dugaan, maupun kesaksian yang disampaikan dalam aksi tersebut masih merupakan pernyataan sepihak dari peserta demonstrasi. Informasi tersebut belum dapat diverifikasi kebenarannya dan belum memperoleh tanggapan resmi dari Kejaksaan Negeri Pati maupun pihak-pihak yang disebut dalam orasi dan kesaksian. Redaksi membuka hak jawab kepada pihak-pihak yang berkepentingan





