KUDUS – baistnews.com Tumpah ruah, ribuan warga Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus menyaksikan pagelaran seni Kethoprak “Wahyu Budoyo asal Kabupaten Pati. Kegiatan tersebut di gelar di Lapangan Samba desa setempat pada Minggu, 30 Agustus 2026 malam.

Pemerintah Desa (Pemdes) Jati Kulon dalam memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi Kudus ke-477 menggelar berbagai kegiatan dan puncak acara menggelar Kethoprak semalam suntuk.

Ketua panitia pelaksana kegiatan Santoso dalam sambutannya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerjasama demi lancar dan suksesnya acara.

“Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan tenaga, pikiran, dan sponshorship, terutama Pemdes Jati Kulon yang telah mensupport demi lancar dan suksesnya acara ini,” ucapnya.

Kami juga mengucapkan selamat kepada para pemenang lomba 17-an, namun bukan karena menang dan kalahnya perlombaan dalam acara peringatan HUT Ke-81 dan HUT Ke-477 Kabupaten Kudus. Tapi lebih dari itu yakni kebersamaan dan kekompakan warga dalam memeriahkan peringatan.

“Antusiasme dan semangat kebersamaan dan kekompakan warga dalam memperingati HUT Ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi Kudus ke-477 patut kita jaga karena hal tersebut merupakan modal penting dalam menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan harmonis,” ujar Santoso.

Momentum kegiatan peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi Kudus tak sekadar menjadi ajang hiburan. Ajang ini kami kemas dalam bentuk perlombaan antar warga. Panitia juga telah menyiapkan hadiah bagi juara 1,2 dan 3. Kami juga menyiapkan hadiah untuk juara harapan 1,2 dan 3.

“Melalui berbagai kegiatan dan perlombaan yang kita selenggarakan menunjukkan, bahwa kegiatan peringatan Kemerdekaan dan Hari Jadi Kudus bukan sekadar seremoni, melainkan ajang silaturrahmi dan semangat gotong royong untuk menyatukan seluruh lapisan masyarakat,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Jati Kulon Herry Supriyanto, mengatakan, bahwa Pemdes Jati Kulon pada Peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI dan Hari Jadi Kudus ke-477 mengadakan berbagai kegiatan yang dimulai pada tanggal 16 Agustus 2026 mulai dari malam tirakatan, upacara 17 Agustus, dan berbagai perlombaan.

“Berbagai kegiatan dan perlombaan telah kami selenggarakan, termasuk karnaval yang menampilkan berbagai kreativitas warga yang kami selenggarakan yang kedua kalinya pada Minggu (23/8).

Herry juga menjelaskan, bahwa puncak acara kegiatan adalah pada malam hari ini dengan menggelar pagelaran seni budaya kethoprak Wahyu Budoyo asal dari Kota Pati.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga wadah untuk memperkuat kebersamaan dan kolaborasi seluruh warga Desa Jati Kulon.

“Semua kegiatan tersebut merupakan progam tahunan Pemdes Jati Kulon. Malam puncak acara pagelaran kesenian Kethoprak Wahyu Budoyo dengan lakon “Ampak-ampak Tulung Agung, Endro Kusumo Jumeneng Ratu,” jelasnya.

Ia juga meminta kepada seluruh warga Desa Jati Kulon harus ‘Zero Sampah’ sesuai dengan tema pembangunan Kabupaten Kudus melalui semangat Kudus Asik, termasuk kepedulian terhadap pengelolaan sampah.

“Bulan Agustus ini menjadi berkah bagi Desa Jati Kulon karena mendapat penghargaan dari Provinsi Jawa Tengah berhasil meraih peringkat pertama kategori utama dalam ajang Desa Mandiri Sampah. Karenanya Desa Jati Kulon harus Zero Sampah,” bebernya.

“Karena juga disesuaikan dengan tema Kudus Asik, pengelolaan sampah, kita berkolaborasi dan kita sinkronkan dengan tema-tema ini,” imbuhnya.

Pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2026, Desa Jati Kulon mengusung tema “Berdaulat, Adil, dan Makmur.”

Demi untuk mewujudkan Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur, pembangunan harus dimulai dari tingkat Desa dengan mengedepankan kebersamaan dan semangat gotong royong.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat agar tidak mudah terprovokasi dan mudah terpecah belah hanya karena adanya perbedaan pendapat, perbedaan pandangan, dan perbedaan pilihan politik.

“Untuk membangun desa, kita harus mengedepankan kebersamaan dan semangat gotong royong. Jangan sampai kita terpecah belah karena perbedaan pendapat, perbedaan pilihan, warna baju, maupun perbedaan paham politik,” tutup Herry.


Diantara ribuan penoton seni budaya kethoprak, Ismanto dan istrinya asal Desa Getas Pejaten mengatakan, bahwa dirinya senang menonton pagelaran seni Kethoprak sejak usia muda.

“Kami senang menonton pagelaran kethoprak sejak usia muda. Hal tersebut merupakan kesenian tradisional bangsa kita yang harus kita jaga dan lestarikan kepada generasi muda,” katanya.

Sementara itu, Gun dan istrinya warga Desa Pasuruhan Kidul mengungkapkan perasaannya yang begitu senang jika ada pagelaran kethoprak sering menonton dimanapun berada.

“Senang sekali menonton seni Kethoprak dimanapun berada. Kami berharap kegiatan seperti ini sering-seringlah di adakan oleh pemerintah, karena ini merupakan hiburan rakyat yang meriah,” ungkapkan.

(L-Man)