Surakarta, 30 Agustus 2026. baistnews.com — Bagi sebagian orang, pertandingan olahraga berakhir ketika peluit panjang dibunyikan, penonton pulang, atlet kembali ke tempat masing-masing, sementara arena perlahan kembali sepi. Namun bagi Her Suprabu Ketua KONI (komite Olahraga Nasional Indonesia) Surakarta justru menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang.
Di balik kedatangan atlet, penonton, maupun pendukung sebuah tim, terdapat peluang lain yang tak kalah menarik: hotel yang terisi, kendaraan yang bergerak, kuliner yang ramai, destinasi wisata yang dikunjungi hingga jasa perjalanan yang ikut tumbuh. Di situlah gagasan sport tourism mendapatkan ruang.
Her Suprabu tidak hanya melihat olahraga sebagai urusan pertandingan dan prestasi. Sebagai Ketua Umum KONI (2025 – 2029) Surakarta / Solo, sekaligus pengusaha di bidangTravel dan Biro umroh Dewangga, ia melihat olahraga dari dua sisi yang saling beririsan. Di satu sisi ada event dan komunitas olahraga. Di sisi lain ada perjalanan manusia yang mengikuti event tersebut.
“Jadi sebenarnya semuanya bisa dikombinasikan dengan bisnis saya,” ujar Her Suprabu yang juga pemilik Biro Travel Dewangga Cabang Surakarta.
Gagasan tersebut kemudian berkembang lebih jauh, perjalanan untuk menyaksikan pertandingan olahraga tidak harus berhenti pada stadion. Pengalaman itu dapat dirangkai dengan perjalanan wisata, bahkan dipadukan dengan ibadah umrah.
Salah satu konsep yang mulai dikembangkan adalah paket perjalanan untuk menyaksikan pertandingan sepak bola sekaligus melanjutkan perjalanan umrah.
“Ya, kita ada paket untuk nonton piala bola sekaligus umrah,” katanya usai jumpa pers di Graha Solopos
Bagi Her Suprabu, pola perjalanan seperti itu menawarkan pengalaman yang berbeda. Orang tidak hanya membeli tiket untuk melihat pertandingan, tetapi mendapatkan sebuah rangkaian perjalanan yang menggabungkan olahraga, wisata, dan ibadah.
Konsep serupa juga diarahkan untuk perjalanan di kawasan Timur Tengah. Ia menyebut adanya gagasan touring di Jeddah yang dikombinasikan dengan perjalanan umroh, Qatar juga masuk dalam gambaran pengembangan tersebut.
Olahraga menjadi magnet awal, perjalanan kemudian diperpanjang dengan aktivitas wisata dan ibadah.Gagasan Her Suprabu tersebut bertemu dengan perkembangan konsep pariwisata di Solo yang tidak hanya bertumpu pada wisata budaya.
Kota ini memiliki modal berupa event olahraga, tradisi budaya, kuliner, serta fasilitas yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari pengalaman wisata. Karena itu, sport tourism dapat ditempatkan sebagai pintu masuk. Seseorang datang ke Solo karena pertandingan. Tetapi setelah pertandingan selesai, masih ada banyak alasan untuk membuatnya tinggal lebih lama.
Dari siklus tersebut ada peluang rantai kehidupan yang saling berkaitan. Rantai tersebut menunjukkan bahwa sebuah event olahraga sesungguhnya dapat memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada skor pertandingan.
Pengalaman Her Suprabu sebagai pengusaha travel memberikan perspektif berbeda ketika ia berbicara tentang olahraga. Ia tidak hanya melihat berapa banyak orang yang datang ke sebuah pertandingan, tetapi juga apa yang dilakukan mereka sebelum dan sesudah pertandingan.
Pertanyaan sederhananya adalah: setelah datang untuk olahraga, ke mana mereka pergi?, Pertanyaan itu kemudian menjadi peluang. Jika perjalanan dapat dirancang dengan baik, wisatawan olahraga tidak hanya menjadi penonton, mereka dapat menjadi wisatawan yang menginap, makan, berbelanja, mengunjungi destinasi, dan menggunakan berbagai layanan lokal.
Konsep tersebut sekaligus membuka peluang kolaborasi antara dunia olahraga dan industri pariwisata. KONI memiliki akses pada komunitas olahraga dan event. Pelaku pariwisata memiliki pengalaman mengelola perjalanan. Pemerintah menyediakan ekosistem dan promosi,sementara masyarakat serta pelaku UMKM menjadi bagian dari rantai ekonomi yang bergerak di dalamnya.
Bagi Her Suprabu, tantangannya bukan sekadar mendatangkan event olahraga, yang lebih penting adalah bagaimana event tersebut mampu menciptakan pengalaman. Sebab wisatawan tidak hanya mengingat siapa yang menang dan siapa yang kalah. Mereka juga akan mengingat kota tempat pertandingan berlangsung, makanan yang mereka cicipi, tempat yang mereka kunjungi, keramahan masyarakat, hingga perjalanan yang mereka jalani setelah meninggalkan stadion.
Dalam perspektif itulah sport tourism menjadi lebih luas. Olahraga adalah magnetnya, pariwisata menjadi pengalaman tambahannya, ekonomi berkembang menjadi salah satu dampak yang diharapkan muncul.
Gagasan Her Suprabu pada akhirnya membawa olahraga keluar dari batas arena pertandingan, stadion tidak lagi harus menjadi titik awal sekaligus akhir. Dari tribun penonton perjalanan bisa berlanjut menuju pusat kota, destinasi budaya, tempat kuliner, hingga perjalanan yang jauh lebih panjang, bahkan menuju Tanah Suci.
Dalam dunia sport tourism pertandingan mungkin hanya berakhir dalam beberapa jam. tetapi perjalanan dan pengalaman yang lahir dari peristiwa tersebut bisa berlangsung jauh lebih lama.
Reporter : Mury




