PATI baistnews.com – Malam di jantung Kota Pati berubah menjadi panggung budaya raksasa. Ribuan pasang mata tumpah ke sepanjang Jalan Panglima Sudirman hingga kawasan Alun-Alun Simpang Lima Pati, menyaksikan parade seni yang penuh warna dalam Karnaval Budaya Festival Adhi Loka Kabupaten Pati 2026, Sabtu (8/8/2026) malam.
Bukan sekadar karnaval. Malam itu, 21 kecamatan di Kabupaten Pati seolah berlomba menunjukkan wajah terbaik kebudayaan masing-masing.
Kostum-kostum spektakuler, karakter tradisional, tari, properti raksasa, atraksi seni hingga berbagai kreasi masyarakat berpadu menjadi satu parade yang membuat suasana Kota Pati semakin semarak.
Karnaval tersebut merupakan rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi Kabupaten Pati ke-703.
Start dari depan Hotel Pati, rombongan peserta bergerak menyusuri Jalan Panglima Sudirman sebelum mencapai garis akhir di kawasan Alun-Alun Simpang Lima Pati.
Sejak awal hingga penghujung acara, antusiasme masyarakat nyaris tak surut. Warga berdiri di sepanjang jalur karnaval, mengabadikan setiap penampilan yang melintas, dan tetap setia menonton pagelaran di panggung yang berdiri di alun alun dengan jangkauan penonton 360 derajat.
Tak hanya 21 kecamatan, Festival Adhi Loka 2026 juga melibatkan Komunitas Budaya Pati serta Paguyuban Tosan Aji Cabang Dinas Wilayah III.
Bukan Sekadar Hiburan, Budaya Dibawa ke Generasi Muda
Di balik gemerlap pertunjukan, Festival Adhi Loka menyimpan pesan penting: budaya tidak boleh berhenti sebagai warisan masa lalu.
Paryanto,S.Pd.,M.M yang menjabat Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pati, sebelumnya pernah menegaskan bahwa karnaval dirancang bukan semata-mata untuk menghibur masyarakat.
“Kami ingin menyajikan karnaval ini dengan nilai budaya. Maka dari itu konsep karnaval kami usung sedemikian rupa sehingga juga memberi nilai edukasi,” ujar Paryanto.
Pesan tersebut terlihat dari konsep yang dibawa peserta. Identitas budaya daerah tidak sekadar ditampilkan apa adanya, tetapi dikemas menjadi pertunjukan yang atraktif dan mudah dinikmati masyarakat.
Inilah yang membuat Adhi Loka 2026 terasa berbeda. Tradisi tetap dipertahankan, tetapi kreativitas diberi ruang untuk berkembang.
Carangsoko Campursari Menggelegar, Pati Bumi Mina Tani Bergema
Kemeriahan semakin menjadi ketika Campursari Carangsoko tampil dengan musik secara langsung.
Alunan musik campursari menggema di tengah parade. Nuansa Jawa semakin kuat ketika lantunan lagu yang menggaungkan identitas Pati Bumi Mina Tani berpadu dengan gerak tari, kostum unik dan atraksi para peserta.
Musik tradisional tersebut seolah menjadi energi tambahan yang menghidupkan suasana.
Penonton tidak hanya melihat parade, tetapi juga disuguhi perpaduan antara musik, tari, kostum dan karakter budaya dalam satu panggung terbuka di tengah Kota Pati.
Kehadiran Campursari Carangsoko sekaligus menunjukkan bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat kuat di tengah masyarakat ketika dikemas secara menarik.
Tari Kethek Seprapat Jadi Klimaks, Limbah Sungai Disulap Jadi Kostum
Namun kejutan belum berakhir.
Ketika rangkaian acara mendekati penghujung, Festival Adhi Loka 2026 justru memberikan salah satu penampilan yang paling mencuri perhatian.
Tari Kethek Seprapat tampil sebagai penutup karnaval.
Bukan hanya gerakan tari yang menjadi daya tarik. Kostum yang dikenakan para penampil justru membawa pesan lingkungan yang kuat.
Kostum tersebut dibuat dengan memanfaatkan limbah Sungai Silugonggo.
Apa yang sebelumnya dipandang sebagai sampah dan sesuatu yang tidak bernilai, di tangan para pelaku seni justru berubah menjadi bagian dari karya pertunjukan.
Di sinilah pesan Adhi Loka terasa semakin kuat.
Budaya bertemu kreativitas. Seni bertemu kepedulian lingkungan. Tradisi bertemu gagasan baru.
Tari Kethek Seprapat pun menjadi sajian penutup yang meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat yang menyaksikan.
21 Kecamatan, Satu Panggung, Satu Kebanggaan Pati
Festival Adhi Loka 2026 akhirnya bukan hanya menyajikan parade.
Kegiatan tersebut menjadi gambaran bagaimana kekayaan budaya 21 kecamatan dapat dipertemukan dalam satu panggung besar.
Setiap daerah datang membawa identitasnya. Setiap peserta menghadirkan kreativitasnya. Dan masyarakat menjadi saksi bagaimana budaya Pati terus bergerak mengikuti zaman.
Dari kostum tradisional hingga kreasi kontemporer, dari irama campursari hingga Tari Kethek Seprapat, semuanya berpadu menjadi sebuah perayaan kebudayaan yang penuh warna.
Malam itu, Pati bukan hanya menggelar karnaval. Pati sedang mempertontonkan kekayaan jati dirinya.
Dan ketika lampu panggung mulai meredup, pesan Festival Adhi Loka 2026 justru semakin terang:
21 kecamatan, satu panggung budaya.
Tradisi menjadi identitas.
Kreativitas menjadi kekuatan.
Lingkungan menjadi inspirasi.
Dan budaya Pati terus hidup di tengah perubahan zaman.





