KUDUS – baistnews.com Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SD 5 Karangbener, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, berbeda dari biasanya. Senin pagi, 13 Juli 2026.

Pada hari pertama masuk sekolah itu, para guru mengenakan kostum wayang dan menyuguhkan pertunjukan drama bercampur komedi untuk menghibur sekaligus membantu siswa baru beradaptasi dengan lingkungan sekolah.

Selepas upacara dan penyematan tanda pengenal, ratusan siswa SD 5 Karangbener, termasuk puluhan siswa baru berkumpul di halaman sekolah.

Dua guru dengan kostum pewayangan tiba-tiba jadi pusat perhatian, memantik perhatian siswa dengan kostum uniknya.

Ketegangan di antara siswa baru mendadak mencair sewaktu tokoh petruk yang diperankan guru muncul. Dengan gaya jenakanya, dialog yang tercipta membuat para siswa tertawa.

Kemudian muncul guru berpakaian ojek online dari belakang, membawa penumpang yang turut cosplay jadi petruk. Pertunjukan drama Petruk kembar itu mengisahkan sebuah negara yang bernama Eskama (SD 5 Karangbener) yang dirusak oleh Petruk Palsu

Drama diselingi kehadiran Buto Ireng yang menakut-nakuti siswa. Halaman sekolah sekolah jadi panggung seni dari para aktor yang diperankan seluruh guru itu.

Cara unik tersebut sudah diterapkan setiap momen MPLS di SD 5 Karangbener sejak empat tahun belakang. Dengan menyisipkan nilai-nilai edukasi yang dibalut komedi.

Pertunjukan drama tersebut menjadi wadah kreativitas guru sekaligus sarana pengenalan lingkungan sekolah bagi siswa baru.

Hasilnya, ketegangan di antara siswa menjadi mencair, mereka yang semula takut dengan peran-peran yang diperagakan berubah gembira setelah mengetahui peran itu dilakukan para gurunya.

Pertunjukkan itu juga memadukan unsur tradisional (pewayangan) dengan unsur kekinian sehingga menarik minat siswa bahkan sejumlah orang tua yang mengantarkan anaknya ke sekolah.

Plt Kepala SD 5 Karangbener Ninik Hartati mengatakan, kegiatan ini para guru tidak hanya berpakaian tokoh pewayangan saja, tapi juga menampilkan drama dengan lakon “Petruk Kembar”.

“Dalam cerita tersebut, mengenai latar Negeri Amarta yang dirubah menjadi Negara Eskama yang merupakan singkatan dari SD 5 Karangbener,” katanya.

Lebih lanjut Ninik Hartati menambahkan, bahwa SD 5 Karangbener sengaja membuat konsep yang berbeda pada hari pertama siswa masuk sekolah.

“Kami sengaja membuat suasana MPLS berbeda dengan SD – SD yang lainnya. Selain itu, dengan drama latar belakang pewayangan merupakan bentuk pelestarian budaya Jawa, sehingga para siswa juga merasa senang sekolah disini,” imbuhnya.

Selain untuk mencairkan ketegangan siswa, pentas drama tersebut juga menjadi sarana edukasi dan pengenalan lingkungan sekolah untuk siswa baru. Nilai-nilai kebersihan, menjaga lingkungan hingga stop bullying disisipkan pada adegan-adegan drama tersebut.

“Seluruh guru terlibat dalam pertunjukan drama ini, hanya dengan persiapan tiga hari, kami ingin melestarikan kearifan lokal dan mengenalkan lingkungan sekolah kepada siswa baru dengan cara berbeda,” terangnya.

Dia berharap, pertunjukan drama dengan kostum wayang ini bisa mencairkan ketegangan bagi para siswa baru. Selain itu, kemasan unik ini juga jadi sarana mendorong kreativitas guru dalam mengemas seni pertunjukkan menjadi metode pembelajaran yang menarik bagi siswa.

“Ada nilai-nilai pertemanan, menjaga kebersihan, cerita wayang, hingga kampanye stop bullying, baru di hari kedua pengenalan guru dan orientasi di ruang kelas,” pungkasnya.

Aris Suryawan (33) mengaku metode yang dilakukan guru di hari pertama sekolah di SD 5 Karangbener cukup unik dan menghibur.

Menurutnya, kreativitas guru tersebut bisa membantu mencairkan suasana siswa baru, termasuk anaknya di sekolah.

“Awal-awal agak canggung dan deg-degan karena ini hari pertama masuk sekolah, tapi setelah pentas drama tadi lumayan tenang, bisa tertawa dan mencair,” ujar Aris.

Ia mengaku sengaja mengambil cuti kerja untuk mengantarkan anak pertamanya berangkat sekolah, sekaligus mendukung program Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GEMAS).

“Ini momen penting jadi saya sempatkan buat anak saya, ternyata lingkungan sekolahnya bagus, ada pertunjukan drama yang menarik dan beda dari sekolah lainnya,” tutup Aris.

Sementara itu, salah satu murid baru kelas satu, Florensha Elzavir Caliana Arshan mengaku senang dengan pertunjukan drama yang disajikan oleh para guru. Murid yang akrab disapa Flo ini juga mengaku sudah mendapatkan teman baru.

“Seneng, sudah dapat temen,” katanya dengan malu-malu.

(L-Man)