KUDUS – baistnews.com Ribuan warga dukuh Jetak Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah tampak antuasias mengikuti kenduren kupatan yang diselenggarakan oleh Takmir Masjid Besar Darussalam.

Ketua Ta’mur Masjid Besar Darussalam Jetak Kedungdowo Kyai Moh. Muhibbin mengakan, kegiatan kenduren kupatan adalah merupakan salah satu progam tahunan pengurus masjid Besar Darussalam (MBDS).
“Acara do’a bersama dalam rangka kenduren kupatan merupakan sebuah tradisi leluhur yang perlu kita lestarikan dan ini merupakan progam tahunan”, kata Moh. Muhibbin pada Sabtu padi, 8 Syawal 1447 H / 28 Maret 2026 M.
Lebih lanjut Kyai Muhibbin menambahkan, bahwa sebelum acara do’a bersama dimulai, tadi pagi sekira pukul 05.30 WIB kita isi dengan terbang papat, hal ini dikandung maksud untuk mengundang masyarakat yang ingin mengikuti acara kenduren kupatan.
“Lebaran 1 syawal biasanya diawali dengan saling mema’afkan sesama warga, setelah itu, lebaran ketupat itu sebagian ketupat dan lepet disedekahkan ke Masjid dengan harapan agar selalu diberi kelancaran rezeki, kesehatan, keselamatan, dan keberkahan,” imbuhnya.

Ia juga menjelaskan, kegiatan kenduri kupatan tersebut bertempat di serambi Masjid Besar Darussalam Jetak Kedungdowo dengan susuan acara sebagai berikut; pembukaan Ali Ahmadi Kadus Desa Kedungdowo, Iftitahul Majlis Oleh Ustadz Umar Said, Sholawat Ustadz Anis Naf’an, Sambutan Pembina Takmir oleh KH. Ali Ihsan, dan Do’a penutup saya sendiri.
Sementara itu, dalam pembukaan Kepala Dusun (Kadus) Jetak Ali Ahmadi mengatakan, kita warga dukuh Jetak Desa Kedungdowo tetep memelihara tradisi dan budaya Jawa yakni Kenduren Kupatan dalam rangka tasyakuran dan do’a bersama di Masjid Besar Darussalam sejak zaman dahulu hingga sekarang.
“Setelah enam hari kita berpuasa Sunnah, sebagai rasa syukur atas nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepada kita semua, kemudian kita mengadakan selamatan Kupatan”, katanya.
Ali Ahmadi juga menjelaskan bahwa, Lebaran Ketupat tahun 1447 Hijriyyah / 2026 Masehi atau Syawalan adalah tradisi silaturrahim dan saling berma’af-ma’fan, stelah tujuh hari kita mengenal istilah “Bodo Kupat”.
“Al-hamdulillah pelaksanaan Lebaran Kupatan pada pagi hari ini berjalan dengan aman, lancar, dan sukses”, jelasnya.

Dalam sambutan Pembina Ta’mir Masjid Besar Darussalam KH. Ali Ihsan, mengungkapkan, ketupat ini berawal dari penyebaran agama Islam di Pulau Jawa oleh Sunan Kalijaga.
Dimana Sunan Kalijaga dalam memperkenalkan Bakda lebaran setelah satu pekan itu lebaran kupat yang merupakan budaya yang dimulai satu pekan setelah lebaran. Pada hari itu, banyak masyarakat yang menganyam dan mempersiapkan hidangan ketupat. Kemudian ketupat akan dibagikan kepada kerabat yang lebih tua sebagia simbol kebersamaan.
“Bodo Kupat iku gak Ono Dalile, sebab di negara arab itu tidak ada Janur, umat Islam itu hanya ada dua lebaran yakni Idul Fitri dan Idul Adha (bodo gede atau Idul Fitri dan bodo besar atau Idul Adha). Namun di pulau Jawa ada tradisi Kupatan yang dikenal dengan bodo Kupat,” ujar KH. Ali Ihsan.
Ali Ihsan juga menjelaskan kata kupat berasal dari bahasa Jawa “Ngaku Lepat (mengaku akan kesalahan) secara filosofis sesama umat muslim diharapkan mengakui kesalahan dan saling mema’afkan dengan memakan ketupat tersebut.
“Menurut tradisi Jawa, bungkus ketupat terbuat dari Janur kuning yang melambangkan tolak bala, sedangkan bentuk segi empat mencerminkan kiblat papat lima pancer, artinya kemanapun manusia menuju, pasti selalu kembali kepada Allah SWT atau arah kiblat”, jelasnya.
Ketupat berasal dari kata ‘Kupat’ dengan arti ganda yakni ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan lalu papat (empat tindakan).
Empat tindakan yang dimaksudkan antara lain; Luberan (melimpah), Leburan (melebur dosa/saling mema’mafkan), Lebaran (pintu ampunan terbuka lebar), dan Laburan (dibersihkan, mensucikan diri).
Wakil ketua Komisi D KH. Ali Ihsan menjelaskan, bahwa sebagai bagian dari warisan budaya, kenduren kupatan bukan hanya tentang menikmati hidangan khas Lebaran, tetapi juga tentang merenungkan perjalanan spiritual dan mempererat tali silaturahim.
Dengan memahami filosofi di baliknya, kenduren kupatan ini menjadi lebih bermakna karena sarat dengan makna dan budaya, tidak hanya sekadar tradisi turun-temurun.
“Tradisi kenduren kupatan ini penting kita pertahankan sebagai pengingat nilai-nilai keikhlasan, silaturrahim, dan kebersamaan antar warga,” tutup Ali Ihsan.

Diantara para peserta kenduren kupatan Rofiq, Rosyadi, Maslikan mengungkapkan perasaannya senang bisa ikut acara kenduren dan dapat membantu kegiatan kenduren kupatan tahun ini.
“Saya setiap ada kegiatan kenduren kupatan sering ikut rewang (membantu) dalam kegiatan kenduren kupatan, untuk ngalap berkah,” ujarnya.
(L-Man)





