KUDUS – baistnews.com Sekolah Menengah Pertama (SMP) 2 Gebog Kudus melaksanakan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi peserta didik baru tahun pelajaran 2025-2026.

Dr, Ahadi Setiawan, S.Pd., M.Pd., mengatakan, Masa SMP merupakan transisi penting dari masa sekolah dasar menuju masa remaja. Pada masa ini, siswa akan menghadapi lingkungan belajar yang berbeda, teman-teman baru, dan berbagai kegiatan yang lain.

“Salah satu momen penting di awal SMP adalah MPLS, yang biasanya diisi dengan berbagai kegiatan untuk membantu siswa baru beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan mengenal satu sama lain,” kata Ahadi Setiawan pada Selasa pagi, 15 Juli 2025.

Lebih lanjut Wawan panggilan akrab Ahadi Setiawan menambahkan, bahwa masa MPLS bagi peserta didik baru tahun pelajaran 2025-2026, bertujuan mendukung proses kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional untuk menuju Indonesia Emas.

Perlu diketahui bahwa penerimaan siswa baru SMP 2 Gebog pada tahun pelajaran 2025/2026 sebanyak 284 siswa.

Ia juga menjelaskan, kepada semua calon siswa baru SMP 2 Gebog diharapkan dapat mengikuti semua rangkaian kegiatan MPLS dari hari Senin-Jum’at (14-18/7) dan ditambah satu hari pada Sabtu (19/7/2025) untuk acar penutupan MPLS.

Perlu saya sampaikan kepada para siswa dan bapak ibu wali siswa bahwa SMP 2 Gebog adalah sekolah yang ramah anak, pasalnya sekolah menjadi tempat yang rentan terhadap bulliying. Oleh karena itu SMP 2 Gebog berperan aktif untuk mencegah bulliliying, maka perlu diterapkan nilai-nilai persahabatan agar siswa dapat saling menghargai, dan toleransi sehingga tercipta kenyamanan siswa didalam sekolah.

“Kami dari pihak sekoah tidak ada kata toleransi kepada para siswa yang suka membully,” Jelasnya.

SMP 2 Gebog, Kabupaten Kudus, tahun ajaran baru ini tengah mempersiapkan terobosan dengan membuka “Kelas Santri”, sebuah program khusus untuk siswa-siswi yang ingin mendalami ilmu agama dan menjadi penghafal Al-qur’an.

Dua dari sembilan kelas yang tersedia di kelas VII akan dialihfungsikan menjadi kelas santri. Masing-masing kelas nantinya diisi 32 siswa. Namun, tak semua siswa bisa langsung masuk. Ada proses seleksi yang harus dilalui terlebih dahulu.

“Kami seleksi dulu kemampuan membaca Al-Qur’an mereka. Kami hadirkan pembina dari pondok pesantren (Ponpes) yang membantu proses seleksinya,” jelasnya.

Menurutnya, kehadiran kelas santri ini merupakan bagian dari upaya sekolah untuk membentuk karakter siswa yang lebih religius dan berakhlak baik. Tahapan awal, baru dua kelas yang dibuka. Jika hasilnya positif, tidak menutup kemungkinan jumlahnya akan ditambah.

“Ini masih tahap awal, bisa dibilang uji coba. Kita lihat dulu bagaimana hasilnya,” tuturnya.

Ia menyampaikan, program tersebut tak akan mengganggu pelajaran umum. Jadwal hafalan Al-qur’an diatur di luar jam belajar, yakni mulai pukul 14.00 hingga 16.00 WIB.

“Materi tahfidz dimulai setelah pelajaran reguler selesai. Harapannya, anak-anak bisa fokus dan tidak merasa terbebani adanya tambahan hafalan,” ungkapnya.

Inovasi dan terobosan baru ini, merupakan langkah untuk menyiapkan generasi muda dengan landasan keimanan yang kokoh. Pihaknya ingin, siswa yang lulus dari sekolahan tersebut tak hanya pintar tapi juga taat dan berkarakter Islami.

“Kami ingin melahirkan siswa yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat iman dan akhlaknya,” pungkasnya.

Atthifa Azka Ramadhani asal Desa Getassrabi Kaumann, Shania Aminah asal Desa Ngaringan Klumpit, dan Nurul Tika Aprilia asal Desa Ngaringan Klumpit mereka mengungkapkan perasaan hatinya yang begitu senang sekali dapat bersekolah yang kami inginkan.

“Kami senang sekali bisa sekolah disini, karena sekolah ini yang menjadi tujuan kami setelah lulus dari sekolah dasar,” ungkapnya.

Pada kegiatan MPLS dihari yang kedua ini, kami mengikuti kegiatan seleksi kelas santri, semoga saja nantinya kami bisa diterima dikelas santri.

“Nanti kalau kami masuk dikelas santri, kami akan berusaha untuk belajar dan belajar untuk menghafal Al-qur’an,” harapnya.

(L-Man)