KUDUS – baistnews.com Festival Tari Lajur Caping Kalo merupakan upaya pelestarian dan merawat sekaligus memperkenalkan Tari Lajur Caping Kalo sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Kabupaten Kudus kepada generasi muda dan masyarkat luas. Gelaran tersebut berlangsung di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus pada, Ahad pagi, 24 Mei 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menjaga eksistensi kerajianan Caping Kalo kepada generasi muda dan masyarakat luas.
Tercatat sebanyak 92 tim penari mengikuti tahap seleksi yang berlangsung sejak 23 Februari hingga 11 Maret 2026. Dari tim kalangan pelajar SMP ada 24, tim pelajar SMA ada 19 dan 49 tim kategori umum.
Proses seleksi melalui vidio penampilan tari. Setelah terseleksi dari 92 tim pendaftar dipilih masing-masing empat tim terbaik (12 finalis) yang akan tampil pada babak final.
Sebanyak 12 finalis yang tampil langsung dihadapan dewan juri dan masyarakat. Untuk kategori SMP di ikuti SMP 2 Gebog, SMP 1 Jati, SMP 2 Kudus, dan SMP 2 Kaliwungu.
Sedangkan kategori SMA diikuti dari finalis SMA 1 Kudus, SMA 1 Mejobo, SMA 2 Bae, serta SMK 1 Kudus.
Untuk finalis kategori umum diikuti oleh tim PKK Kecamatan Kota, Dinas PKLH, UKM Seni Kampus UMKU, dan Itekes Cendikia Utama.

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pelestarian budaya Tari Lajur Caping Kalo melalui festival tersebut.
Ia berharap Tari Lajur Caping Kalo semakin dikenal generasi muda dan masyarkat luas, serta mampu menjadi identitas budaya Kudus. Bahkan pada peringatan Hari Jadi Kudus ke-477 nantinya bisa masuk dalam pemecahan Rekor MURI.
“Tari Lajur Caping Kalo diharapkan nantinya menjadi pemecah rekor MURI. Ini bisa menjadi kado indah untuk Kabupaten Kudus yang menapaki usia ke-477,” harapnya.
Tak hanya itu, pihaknya juga mengajak masyarakat untuk turut serta dalam pelestarian caping kalo. Dengan mengenakan atribut caping kalo setiap tanggal 23 serta setiap event kesenian dan kebudayaan di Kudus.
“Kami mengajak masyarakat untuk berpartisipasi, tidak harus dengan menari. Dengan memakai caping kalo, menunjukkan rasa bangga, kesadaran dan menjaga hubungan dengan alam,” bebernya.
Dia berharap, warisan budaya caping kalo terus dirawat dan dilestarikan sehingga identitas Kudus itu akan terjaga hingga masa yang akan datang.
“Semoga Tari Lajur Caping Kalo dan Caping Kalo bisa mendunia, menjadi identitas Kudus yang dikenal masyarakat sebagai simbol kecintaan terhadap budaya daerah,” pungkasnya.
Dalam festival Tari Lajur Caping Kalo kategori SMP tampil sebagai juara 1 diraih SMP 1 Jati. Tim ini mampu tampil secara apik dan memukau para penonton yang menyaksikan festival tersebut.
Ainayya dan tim SMP 1 Jati untuk sukses dan mampu memukau dalam penampilannya membutuhkan persiapan kurang lebih satu bulan.
“Persiapan lebih kurang satu bulan untuk latihan gerakan dan koreografi,” kata Ainayya.
Hanya saja memang ada gerakan yang menurutnya agak susah. Misalnya pada saat gerakan tali menali yang menjadi bagian dari Tari Lajur Caping Kalo.
“Tetap agak grogi, tapi memang sudah berlatih dengan tampil semaksimal mungkin jadi bisa tampil dengan sukses,” ujarnya.
(L-Man)





