PATI baistnews.com – Pelaksanaan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Tahun Anggaran 2026 di Desa Tlogorejo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, menuai tanda tanya. Proyek senilai sekitar Rp195 juta tersebut menjadi perhatian setelah hasil penelusuran di lapangan menemukan kondisi pekerjaan yang dinilai perlu mendapatkan penjelasan teknis.

Program yang bertujuan meningkatkan jaringan irigasi untuk menunjang produktivitas pertanian itu dilaksanakan oleh Kelompok P3A Tirta Tlogorejo Tetap Abadi dengan koordinasi Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana.
Pelaksanaan kegiatan mengacu pada Perjanjian Kerja Sama Nomor HK0201./B/BBWS7.11.2/2026/103, dengan masa pelaksanaan selama 90 hari kalender.
Berdasarkan penelusuran awak media di lokasi pada Senin (24/8/2026), terlihat bagian pekerjaan saluran yang menimbulkan pertanyaan mengenai metode pelaksanaan pondasi. Pada sejumlah bagian, pondasi saluran tampak tidak melalui proses penggalian yang terlihat memadai sebelum pasangan batu dikerjakan.
Kondisi tersebut menjadi penting untuk diperiksa karena pondasi merupakan salah satu bagian utama yang menentukan kestabilan konstruksi. Namun, untuk memastikan apakah pekerjaan tersebut benar-benar tidak sesuai spesifikasi, diperlukan pemeriksaan teknis dengan mengacu pada gambar kerja, RAB dan spesifikasi yang ditetapkan dalam program.
“Kami berharap pekerjaan yang menggunakan anggaran negara benar-benar dikerjakan sesuai ketentuan. Kalau ada bagian yang perlu diperbaiki, sebaiknya dilakukan saat pekerjaan masih berlangsung,” ujar seorang warga yang meminta identitasnya tidak disebutkan.
Menurut warga, kualitas pembangunan irigasi harus menjadi perhatian karena saluran tersebut nantinya akan digunakan untuk mendukung kebutuhan pertanian masyarakat.
“Yang kami harapkan bukan sekadar selesai dibangun, tetapi kuat dan bisa dimanfaatkan petani dalam jangka panjang. Jangan sampai baru selesai kemudian cepat mengalami kerusakan,” katanya.
Apabila nantinya hasil pemeriksaan teknis menunjukkan adanya ketidaksesuaian dengan spesifikasi, masyarakat berharap pihak pelaksana melakukan perbaikan sesuai ketentuan. Sebaliknya, jika pekerjaan dinyatakan telah memenuhi standar, penjelasan teknis diperlukan agar informasi yang berkembang tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Saat awak media melakukan konfirmasi, Kepala Desa Tlogorejo menyampaikan bahwa Ketua Kelompok P3A Tirta Tlogorejo Tetap Abadi belum berhasil ditemui untuk memberikan keterangan terkait pelaksanaan pekerjaan tersebut.
Media ini juga masih membuka ruang klarifikasi dan hak jawab bagi Kelompok P3A Tirta Tlogorejo Tetap Abadi maupun BBWS Pemali-Juana untuk menjelaskan metode pengerjaan, spesifikasi teknis serta kondisi pekerjaan yang ditemukan di lapangan.
Sejumlah pihak mendorong dilakukannya pemeriksaan menyeluruh terhadap proyek tersebut. Pemeriksaan diharapkan tidak hanya menyangkut kondisi fisik bangunan, tetapi juga dokumen administrasi, gambar teknis, volume pekerjaan, kualitas material dan metode pelaksanaan.
Hal tersebut dinilai penting mengingat anggaran sekitar Rp195 juta merupakan bagian dari program pemerintah yang manfaatnya diarahkan langsung kepada masyarakat, khususnya petani.
“Program seperti ini sangat dibutuhkan petani. Karena itu pengawasan harus dilakukan sejak proses pembangunan, supaya hasil akhirnya benar-benar memberikan manfaat dan tidak menjadi pekerjaan yang sia-sia,” ungkap warga.
P3-TGAI pada dasarnya merupakan program yang berkaitan dengan pembangunan dan peningkatan jaringan irigasi melalui pemberdayaan masyarakat petani. Karena itu, keberhasilan program tidak hanya diukur dari terselesaikannya bangunan secara fisik, tetapi juga dari kualitas, ketahanan dan manfaatnya bagi masyarakat.
Masyarakat berharap pihak berwenang segera memberikan perhatian terhadap kondisi tersebut dan melakukan pengecekan secara objektif. Jika ditemukan kekurangan, perbaikan dapat dilakukan sedini mungkin sehingga tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.
Sebab, yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar saluran irigasi yang selesai dibangun, tetapi infrastruktur yang kokoh, sesuai ketentuan dan benar-benar mampu mengalirkan manfaat bagi lahan pertanian.
(Candra).





