PATI baistnews.com – Pelaksanaan proyek Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) di Desa Puluhan Tengah, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, menuai sorotan. Sejumlah dugaan ketidaksesuaian teknis ditemukan dalam pekerjaan saluran irigasi yang dinilai perlu segera mendapatkan klarifikasi dari pihak pelaksana maupun instansi terkait. (25/08)

Berdasarkan pantauan di lokasi, terdapat bagian pekerjaan pasangan batu yang diduga dipasang tanpa melalui proses penggalian atau pembuatan dudukan sebagaimana konstruksi saluran pada umumnya. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kualitas dan daya tahan bangunan irigasi yang sedang dikerjakan.
Sorotan warga tidak hanya tertuju pada metode pemasangan batu. Material campuran pasir dan bahan lainnya juga dipersoalkan karena secara kasatmata dinilai tidak sesuai dengan kualitas yang diharapkan untuk pekerjaan konstruksi saluran irigasi.
Warga yang ditemui di sekitar lokasi menyayangkan apabila pekerjaan tersebut dilakukan secara borongan tanpa pengawasan yang ketat. Menurut mereka, kualitas pekerjaan seharusnya menjadi prioritas karena proyek tersebut menggunakan anggaran pemerintah dan memiliki tujuan langsung untuk mendukung kebutuhan pertanian masyarakat.
“Kami sengaja melakukan kontrol sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah agar mengedepankan kualitas dan asas manfaat yang jelas,” ungkap seorang warga yang meminta identitasnya tidak disebutkan.
Warga tersebut menilai dugaan ketidaksesuaian metode pengerjaan perlu segera diperiksa secara teknis. Sebab, jika konstruksi tidak memiliki dasar atau dudukan yang kuat, dikhawatirkan bangunan saluran akan lebih mudah mengalami kerusakan ketika digunakan dalam jangka panjang.
“Ini jelas mengkhawatirkan karena menyangkut daya tahan bangunan dalam jangka panjang,” ujarnya.
Pantauan lapangan juga menemukan adanya bagian pasangan batu yang dinilai perlu diperiksa lebih lanjut, terutama menyangkut kedalaman pemasangan, kualitas adukan, komposisi material, serta kesesuaian pekerjaan dengan spesifikasi teknis yang ditetapkan dalam program.
Persoalan ini menjadi penting karena P3-TGAI merupakan program yang berkaitan langsung dengan infrastruktur irigasi dan kepentingan petani. Saluran yang dibangun dengan kualitas kurang baik berpotensi mengurangi manfaat program apabila kemudian cepat mengalami kerusakan.
Warga berharap pengawasan terhadap pekerjaan tidak hanya dilakukan setelah proyek selesai. Pemeriksaan justru dinilai penting dilakukan ketika pekerjaan masih berlangsung sehingga apabila ditemukan kekurangan, pelaksana masih memiliki kesempatan melakukan perbaikan.
“Harapan kami jangan sampai proyek pemerintah hanya selesai secara fisik, tetapi tidak kuat dan tidak bertahan lama. Yang dibutuhkan masyarakat adalah bangunan irigasi yang benar-benar bisa dimanfaatkan,” ujar warga tersebut.
Sorotan terhadap proyek ini juga diharapkan menjadi pintu masuk bagi pengawasan bersama. Masyarakat meminta pihak terkait melakukan pemeriksaan secara objektif untuk memastikan apakah pekerjaan telah sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB), gambar teknis, spesifikasi material dan ketentuan P3-TGAI.
Jika nantinya hasil pemeriksaan teknis menemukan adanya ketidaksesuaian, masyarakat berharap dilakukan pembenahan sesuai ketentuan. Sebaliknya, apabila pekerjaan dinyatakan telah memenuhi spesifikasi, penjelasan teknis dari pihak berwenang diperlukan agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran di tengah masyarakat.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak pelaksana maupun pihak terkait belum berhasil dimintai konfirmasi lebih lanjut mengenai dugaan ketidaksesuaian pekerjaan tersebut karena kendala komunikasi.
Kini perhatian warga tertuju pada tindak lanjut pengawasan. Proyek P3-TGAI bukan sekadar pembangunan pasangan batu, tetapi menyangkut kualitas infrastruktur yang diharapkan mampu mengalirkan air ke lahan pertanian dan memberikan manfaat jangka panjang bagi petani Desa Puluhan Tengah.





