KUDUS – baistnews.com Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (Matamuda) menjadi Masa Ta’aruf Murid Madrasah (Matamuda) mulai Tahun Pelajaran 2026/2027 mulai diberlakukan oleh Kementrian Agama (Kemenag).
Kemenag juga mengatur kegiatan Matamuda dilaksanakan maksimal 5 hari dan wajib dilaksanakan di lingkungan madrasah. Untuk anak-anak RA (Raudhatul Athfal) usia 4-6 tahun.

RA Hidayatul Athfal Jati Wetan resmi membuka kegiatan tersebut. Dalam pelaksanaanya kegiatan itu lebih banyak berupa bermain sambil belajar, bernyanyi, dan pengenalan teman serta guru pendidik.
Kepala RA Hidayatul Athfal Machmudah S.Pd., Aud mengatakan, Masa Ta’aruf Murid Madrasah (Matamuda) di RA Hidayatul Athfal Jati Wetan adalah kegiatan pengenalan lingkungan madrasah. Kegiatan ini dilaksanakan selama empat hari.
“Kegiatan Matamuda RA Hidayatul Athfal Jati Wetan Tahun pelajaran 2026/2027 resmi dibuka dan akan dilaksanakan pada hari Rabu hingga Sabtu,” kata Machmudah pada Rabu, 15 Juli 2026.
Lebih lanjut Machmudah menambahkan, bahwa kegiatan awal tahun ajaran baru ini digelar dengan suasana yang sehat, aman, nyaman, dan menyenangkan agar anak-anak usia dini merasa betah dan bahagia saat pertama kali masuk madrasah.
“Kegiatannya lebih banyak berupa bermain sambil belajar, bernyanyi, dan pengenalan teman serta dewan guru,” imbuhnya.
Ia juga menjelaskan, kegiatan ini, dirancang untuk lebih humanis, guna untuk memberikan kesan pertama yang positif kepada seluruh murid baru. Pihaknya ingin memastikan, bahwa hari pertama ke madrasah menjadi momen yang dirindukan, bukan ditakuti.
“Dilarang keras segala bentuk praktik perundungan (bullying) selama kegiatan berlangsung. Kami ingin para murid baru merasa bahwa madrasah ini adalah rumah kedua mereka merasa aman dan nyaman,” jelasnya.

Waka Kurikulum Uswatun Chasanah, S.Pd.I menerangkan, jumlah murid di RA Hidayatul Athfal ada 136 anak yang terdiri dari laki-laki 68 anak dan Perempuan 68 anak.
“Murid di RA Hidayatul Athfal ada 136 yang terdiri dari Pra RA ada 13 Abak, Kelas A ada 63 anak, dan kelas B ada 60 anak,” terangnya.
Lebih lanjut Uswatun menambahkan, bahwa murid di RA Hidayatul Athfal itu ada yang berasal dari Desa Karanganyar, Kbupaten Demak, dan Kecamatan-kecamatan yang lain di Kudus.
“Yang masuk menjadi murid di RA Jati Wetan ini, ada yang berasal dari Desa Jepang dan Jati Wetan, Kecamatan Jati, Desa Prambatan Kecamatan Kaliwungu, dan Desa Hadipolo Kecamatan Jekulo, bahkan ada yang berasal Desa Karanganyar Kabupaten Demak,” imbuhnya.
Sementara itu, wakil Kepala RA Naili Tria Rossyika, S.Pd., menambahkan, bahwa kami juga telah menyampaikan kepada wali murid untuk hari pertama Matamuda adalah Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) tahun ajaran 2026/2027.
Menurutnya. kehadiran orang tua, terutama sosok ayah, memiliki peran krusial dalam memberikan semangat, rasa aman, dan dukungan moral bagi anak saat memulai tahun ajaran baru.
“Hari pertama ke sekolah menjadi momen yang penting bagi anak-anak. Kehadiran orang tua, khususnya ayah, akan memberikan semangat dan rasa percaya diri kepada mereka untuk memulai proses belajar,” ujarnya.
Naili Tria Rossyika juga menjelaskan, bahwa pendampingan orang tua, tidak hanya dilakukan pada hari pertama sekolah, tetapi perlu terus dibangun melalui komunikasi dan perhatian terhadap perkembangan pendidikan anak.
“Bagi anak-anak yang belum memiliki kesempatan didampingi ayah, termasuk anak-anak yatim, mari kita hormati, kita berikan perhatian. Mereka adalah anak-anak kita bersama yang juga berhak mendapatkan kasih sayang dan dukungan dari lingkungan sekitar,” jelasnya.

Diantara ayah yang mengantar adalah Dedy Achris Cahyono ayah dari Athar Sakhy Muhammad Danendra asal dari Desa Karanganyar, Kabupaten Demak dan Aji Selamet ayah dari Nur Mutiara Zahra asal Desa Jati Wetan, mereka mengatakan, kami sengaja mengantar anak kami di hari pertama menjadi murid RA Hidayatul Athfal Jati Wetan.
“Ini menjadi momen yang tidak ingin ia lewatkan begitu saja. Kami rela untuk cuti kerja demi untuk mengantar anak kami masuk pertama di RA,” katanya.
Perasaan kami campur aduk saat mengantar anak ke RA. Menurutnya suasana RA atau tempat yang baru tetap menjadi tantangan tersendiri karena membutuhkan proses adaptasi.
“Kami merasa deg-degan, khawatir anak kami rewel atau nangis, karena ini merupakan lingkungan baru bagi anak kami, jadi harus ada penyesuaian lingkungan,” ujarnya.
Sementara itu, Jennaira Aisyah Putri dan Naura Isma Al Mahira murid RA Hidayatul Athfal merasa senang dan merasa nyaman bisa sekolah disini.
“Senang sekolah disini, ini juga sudah mendapat teman baru,” jawabya sambil tersipu malu.
(L-Man)





