PATI baistnews.com – Keterbukaan menjadi salah satu catatan penting dalam audiensi Gerakan Masyarakat Tolak Korupsi (GERMAP) dengan manajemen RSUD RAA Soewondo Pati, Rabu (14/10/2026). Berbagai persoalan terkait pengelolaan rumah sakit dibahas secara terbuka, mulai dari tenaga kerja, anggaran pemenuhan gizi, pendapatan rumah sakit, hingga pengawasan dan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Audiensi tersebut tidak hanya menjadi ruang penyampaian pertanyaan dan kritik, tetapi juga kesempatan bagi manajemen rumah sakit untuk menjelaskan kebijakan serta tantangan pelayanan yang dihadapi. GERMAP pun menyampaikan apresiasi atas respons manajemen dalam menjawab sejumlah persoalan yang menjadi perhatian organisasi tersebut.
Direktur RSUD RAA Soewondo Pati, dr. Ahmad Husin, Sp.PD, M.Kes., menyambut positif audiensi tersebut. Menurutnya, masukan dari masyarakat merupakan bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit milik pemerintah daerah itu.
Berbagai masukan yang disampaikan GERMAP mencakup persoalan tenaga kerja, pemenuhan gizi, penanganan pengaduan, pengawasan, serta pengelolaan anggaran. Seluruh aspek tersebut dinilai memiliki keterkaitan dengan mutu pelayanan yang diterima pasien.
Sebagai rumah sakit tipe B yang menjadi salah satu rujukan pelayanan kesehatan di kawasan Pantura, RSUD Soewondo menghadapi kebutuhan pelayanan yang terus berkembang. Tingginya kunjungan pasien menjadi salah satu tantangan yang harus diantisipasi melalui perencanaan dan peningkatan kapasitas layanan.
“Sebagai satu-satunya rumah sakit tipe B di wilayah Pantura tersebut, kami berkomitmen meningkatkan pelayanan kepada masyarakat,” demikian penjelasan Direktur RSUD Soewondo dalam wawancara seusai audiensi.
Keterisian Tempat Tidur Hampir 85 Persen
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian manajemen adalah tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) yang mencapai hampir 85 persen. Selain itu, antrean pasien di unit gawat darurat (UGD) juga menjadi tantangan dalam memenuhi kebutuhan pelayanan masyarakat.
Kondisi tersebut mendorong rumah sakit mempertimbangkan penambahan kapasitas tempat tidur agar dapat mengakomodasi kebutuhan pasien secara lebih optimal, khususnya masyarakat Kabupaten Pati.
Namun, peningkatan kapasitas pelayanan tidak hanya berkaitan dengan penambahan fasilitas fisik. Ketersediaan tenaga medis, tenaga pendukung, sarana prasarana, serta pengelolaan pelayanan juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan agar peningkatan kapasitas diikuti mutu layanan yang memadai.
Tingginya keterisian tempat tidur sekaligus menunjukkan pentingnya perencanaan pelayanan berdasarkan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, pengembangan rumah sakit diharapkan tidak berhenti pada peningkatan fasilitas, tetapi juga mampu memperbaiki akses dan kenyamanan pasien.
Rekrutmen Dokter Mitra Disesuaikan Kebutuhan
Dalam audiensi tersebut, persoalan perekrutan tenaga mitra turut menjadi pembahasan. Manajemen menjelaskan bahwa delapan tenaga mitra yang dipersoalkan merupakan dokter spesialis.
Perekrutan dokter mitra, menurut penjelasan pihak rumah sakit, dilakukan berdasarkan kebutuhan pelayanan dan rencana strategis pengembangan rumah sakit. Salah satu kebutuhan yang disampaikan adalah dokter spesialis bedah saraf untuk mendukung rencana pengembangan layanan pusat trauma di kawasan Pantura Timur.
Manajemen juga memaparkan bahwa calon dokter harus melalui pemeriksaan dokumen dan proses kredensial oleh Komite Medik untuk memastikan kompetensi, keahlian, serta kewenangan klinis sebelum memberikan pelayanan kepada pasien.
Penjelasan tersebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai pentingnya transparansi perekrutan tenaga kesehatan, sekaligus memastikan kebutuhan tenaga profesional dapat dipenuhi sesuai ketentuan yang berlaku.
Anggaran Gizi dan Pengawasan Ikut Disorot
Selain tenaga kerja, GERMAP turut meminta penjelasan mengenai anggaran pemenuhan gizi, pendapatan rumah sakit, insentif Dewan Pengawas, serta jumlah dan status kepegawaian tenaga non-ASN.
Dalam pemaparan audiensi, anggaran makanan pasien disebut mencapai sekitar Rp3 miliar, sementara konsumsi pegawai lebih dari Rp2 miliar pada 2026. Pengadaan tersebut melibatkan sejumlah penyedia untuk memenuhi kebutuhan makanan pasien dan konsumsi pegawai.
Pembahasan itu menempatkan kualitas makanan, keamanan pangan, kebersihan, serta ketepatan penggunaan anggaran sebagai hal yang perlu mendapat perhatian. Pengelolaan anggaran rumah sakit dinilai harus berjalan seiring dengan peningkatan mutu pelayanan dan kesejahteraan tenaga kerja.
Ketua GERMAP Pati, Yayak Gundul, menyampaikan apresiasi atas keterbukaan manajemen dalam memberikan penjelasan. Ia berharap kinerja positif rumah sakit, termasuk peningkatan pendapatan dalam dua tahun terakhir, dapat berjalan beriringan dengan perbaikan kualitas pelayanan dan transparansi pengelolaan.
Bagi GERMAP, keterbukaan dalam audiensi menjadi langkah penting untuk membangun komunikasi antara masyarakat dan pengelola layanan publik. Penjelasan yang diberikan manajemen juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk memahami kebijakan rumah sakit sekaligus mendorong pengawasan yang konstruktif.
Audiensi tersebut diharapkan menjadi awal komunikasi yang berkelanjutan, sehingga berbagai masukan tidak berhenti sebagai pembahasan dalam forum, melainkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi peningkatan pelayanan RSUD RAA Soewondo Pati.
Di tengah tingginya kebutuhan layanan kesehatan dan tantangan kapasitas rumah sakit, keterbukaan terhadap kritik serta kesediaan menjelaskan kebijakan menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat. Pada akhirnya, keberhasilan pengelolaan rumah sakit tidak hanya diukur dari pendapatan dan fasilitas yang dimiliki, tetapi juga dari kualitas pelayanan yang dirasakan langsung oleh pasien.





